Rasullah SAW membagi 5 zaman, diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
"Allah berjanji bagi orang-orang yang beriman di antara kalaian dan beramal shalih dan bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan sebagai penguasa (pemimpin) di muka bumi sebagaimana orang-orang terdahulu telah berkuasa., dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menggantikan kondisi mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa, Mereka tetap beribadah kepadaKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun denganKu, Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (QS. 24. An-Nur: 55).
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menerangkan “Ini adalah Janji Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai khalifah dan pemimpin di muka bumi ini. Seluruh umat akan tunduk dibawah kekuasaan mereka dari perasaan takut yang dulu selalu menghantui menjadi perasaan aman sentosa penuh ketenangan…
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (Qs 3 Ali 'Imran : 140)
Fiqh pergiliran dan pergantian zaman adalah sebuah kenyataan sejarah kehidupan manusia yang patut kita jadikan renungan secara mendalam. Timbul tenggelamnya bangsa di muka bumi ini memiliki maksud spesifik di mata Allah swt. Agar Dia mengetahui siapa diantara kita yang benar-benar beriman dan Dia mengambil sebagian komunitas itu sebagai syuhada’.
Barangsiapa memperhatikan keadaan ummat-ummat sepanjang sejarah maka ia akan mendapatkan pelajaran bahwa obor peradaban berpindah dari bangsa satu ke bangsa lain, dari satu tangan ke tangan lain. Sesungguhnya perputaran (saat) ini adalah milik kita, bukan melawan kita, kata Hasan al-Banna.
Kang Aher, dalam Pidato Peradabannya di Turki, menukil perkataan Seorang futuristic, bahwa bangsa-bangsa besar sudah mengalami, mendapatkan jatah kepemimpinan. Arab sudah, arab bagian barat sudah di Cordoba. Turki sudah. Mongolia sudah dalam menaklukkan Baghdad. Dan ada satu etnis besar yang belum kebagian menaklukkan dunia, itulah etnis melayu. Kalau kemudian kita berbicara peradaban, dan kita berasal dari Indonesia adalah sangat wajar karena kita bangsa besar yang belum dapat giliran. Dan Allah akan mempergilirkan dengan cara adil. Insha Allah dimasa depan yang akan datang memimpin peradaban dunia adalah Indonesia. (Saya baru sadar kenapa The Founding Fathers memakai serapan bahasan Melayu sebagai Bahasa Indonesia)
Bicara perkembangan muslim di Indonesia, tentunya sangat menarik, di pertengahan Ramadhan yang lalu, saya berkesempatan menghadiri peluncuran buku Mas Yuswohady, bersama dengan teman-teman dari Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Buku yang berjudul : Marketing To The MIDDLE CLASS MUSLIM, mengupas Fenomena kebangkitan Kelas Menengah Muslim di Indonesia.
Bangsa Indonesia telah ditempa oleh perjalanan sejarah dan waktu. Krisis 1998 adalah memonetum bangsa Indonesia mereset kedudukannya dalam berbangsa, yang mayoritas penduduknya beragama islam. Saat krisis Subprime Mortgage 2008, di Wilayah Amerika, menjadi Pukulan telak Mahzab Kapitalis.
Buku Karya Mas Yuswohadi setidaknya sudah mengukur fenomena Pertumbuhan Kelas Menengah Muslim pasca runtuh dominansi Kapitalis, tepatnya tahun 2010. Didalam buku tersebut terpetakan 4 tipe konsumen Muslim ; Rationalist, Universalist, Apathist dan Conformist.
Menariknya, Konsumen Muslim, dalam membeli barang dan Jasa, tidak sekedar memperhatikan Fungtional dan Emotional Value saja, akan tetapi juga memasukan unsur Spiritual Value. Alhasil, kita bisa menyaksikan fenomena yang ada saat ini ;
Revolusi Hijab, “Makin Modern, Trendy dan Techy”. Dahulu betapa sulitnya Jilbab diperkenalkan ke Masyarakat. Para Aktivis Dakwah harus berjuan di Awal tahun 90an. Selanjutnya Jilbab sudah mulai dikenal, Namun masih terkesan “Kampungan”. Namun coba kita lihat saat ini.. Terbalik, orang yang tidak berhijab tidak Trendy dan ketinggalan zaman.
Umroh semakin digemari sebagai Wista Religi dan liburan. Apalagi ditambah dengan fenomena Social Media, emotional value konsumen semakin diaduk aduk dengan trend Narsis dan Selfi, begaya didepan Ka’bah Kapan lagi? Mau dong?
Kinclongnya Kosmetik Halal, Wardah effect, bisa dikatakan demikian. Perjuangan Wardah mengedukasi pasar selama puluhan tahun terganjar dengan fenomena ini, Survei Mas Yuswohadi dalam buku ini ; 90% masyarakat pengguna kosmetik saat ini mempertimbangkan unsur halal. Fenomena ini tentunya membuat Was-was Martha Tilar dan pemain sejenisnya yang belum tersentuh unsur halal.
Budaya Islam Pop, “Satu untuk Semua”. Music Islam semakin digandrungi, Opick yang bertahun tahun mencoba mengadu nasib dijalur Rock, ternyata Keberkahannya ada di Musik Religi, lewat Single Alhamdulillah, Opick featuring Amanda berhasil merebut hati konsumen Muslim. Selain Opick, Gigi, Ungu, Wali selalui sukses dengan Musik Religi yang dirilisnya. Selain Musik, fenomena ini juga merambah ke Novel, Layar Lebar dan Sinetron. Penjualan Buku di Gramedia, Buku Motivasi Islam menempati rangking ke 2 setelah penjualan Novel.
Masih banyak fenomena lainnya yang terkait dengan hal ini, sebut saja Booming Bank Syariah, Hotel Syariah, menjamurnya Sekolah berbasis Islam dan Qur’an sebagai pendidikan karakter dan Islamic Parenting.
Tahun 2015, Rumpun melayu mulai unjuk kemampuan dengan memulai ASEAN Free Trade Area, Inysa Allah fenomena kebangkitan Kelas Menengah Muslim akan meluas. Kita tunggu aja effectnya di Tahun 2018 (trend 10 tahunan 1998, 2008).
Manhaj Islam, Yusuf Qardhawi menjelaskan tentang manhaj keseimbangan, yakni seimbang dunia dan akhirat. Dalam surat Al-Jumu’ah 9 dan 10. Ketika azan Jum’at berkumandang tinggalkanlah segala aktifitas duniawi. Tetapi Allah juga kemudian melanjutkan dengan ‘ketika sholat jumat usai dilaksanakan, maka menyebarlah keseluruh muka bumi’. Tidak ada konsep tidur siang untuk mencari karunia Allah serta berzikir; inilah keseimbangan.
Jadi seorang muslim yang bercita-cita jadi orang kaya, berhak untuk itu. Seorang muslim yang bercita-cita untuk menjadi orang hebat, berkewajiban untuk itu. Orang kaya yang bersyukur lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT daripada orang miskin yang bersabar. Lebih baik jadi orang kaya yang bersyukur daripada orang miskin yang bersabar. Pilih mana? Islam tidak memisahkan antara kaya dan syukur, tetapi justru memadukan keduanya dalam waktu yang bersamaan.
Sehingga salah satu jalan untuk membangaun peradaban adalah orang kaya yang menggunakan hartanya dalam kebaikan. Karena 9 diantara 10 sahabat yang dijamin masuk surga adalah pengusaha. Rizki mempunyai 10 pintu, dan 9 pintunya adalah dengan menjadi pengusaha. Satunya adalah untuk para pegawai. Jadi kalau ada pegawai yang kaya raya, patut dicurigai. Jangan-jangan hasil korupsi.
Peran strategis kelas menengah tak hanya terbatas di ranah ekonomi, tapi juga politik. Ya, karena pengalaman di berbagai negara kelas menengah memainkan peran krusial dalam proses demokratisasi. Karena tingkat pengetahuan yang tinggi, kelas menengah memiliki nilai-nilai yang penting bagi terwujudnya proses demokratisasi.
Kajian Pew Research (2009) di 13 negara berpendapatan menengah (middle-income countries) misalnya, menemukan bahwa kelas menengah memiliki nilai-nilai yang menjunjung praktek demokrasi seperti pemilu yang bebas dan jujur, kebebasan berpendapat, dan sistem peradilan yang adil. Dalam tulisan terbarunya di jurnal Foreign Affair berjudul “The Future of History” (2012), pakar politik Francis Fukuyama bahkan menempatkan kelas menengah sebagai penentu arah politik dan demokrasi ke depan
Tentunya Janji Alloh akan menjadi kenyataaan, telepas semua hal yang ada kita tentunya harus bersyukur kepada para Ustdz, Kiayai & aktivis dakwah yang dengan tulus dan ikhlas, memperjuangkan nilai-nilai Islam yang dahulunya banyak ditentang dan dihindari. Buah Kerja kerasnya kita yang menikmati. Hal ini semakin mendekatkan diri kita dengan Alloh SWT. Setidaknya Konsistensi kita kita tunjukan dengan Shalat tepat waktu, bergegas memenuhi panggilanya, Insya Alloh kelak kita dipanggil akan mudah, karena kita sudah terbiasa mempermudah panggilannya.
Kita siapkan anak-anak kita sebagai generasi penerus yang berakhlak islami dengan Al Quran sebagai pegangan hidupnya, Kelak apa yang kita Pikirkan akan terjadi dizaman mereka.
Kita besarkan hati kita dengan banyak bersabar dan bersyukur, Insya Alloh kelak Kita disampaikan dengan Islam sebagai Soko Guru Peradaban (Ustadziyatul 'Alam) Hati kita mampu menampung semua kebesaran Islam yang terkandung didalamnya, Seperti besarnya hati para sahabat yang mampu menerima Kebesaran Al Quran saat duturunkan.
- Zaman Kenabian
- Zaman Khulafaur Rasyidin
- Zaman Mulkan Adon (Kerajaan/Dinasti)
- Zaman Mulkan Jabarian (Penguasa Diktaktor)
- Zaman Kembalinya Kejayaan Islam
"Allah berjanji bagi orang-orang yang beriman di antara kalaian dan beramal shalih dan bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan sebagai penguasa (pemimpin) di muka bumi sebagaimana orang-orang terdahulu telah berkuasa., dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menggantikan kondisi mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa, Mereka tetap beribadah kepadaKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun denganKu, Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (QS. 24. An-Nur: 55).
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menerangkan “Ini adalah Janji Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai khalifah dan pemimpin di muka bumi ini. Seluruh umat akan tunduk dibawah kekuasaan mereka dari perasaan takut yang dulu selalu menghantui menjadi perasaan aman sentosa penuh ketenangan…
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (Qs 3 Ali 'Imran : 140)
Fiqh pergiliran dan pergantian zaman adalah sebuah kenyataan sejarah kehidupan manusia yang patut kita jadikan renungan secara mendalam. Timbul tenggelamnya bangsa di muka bumi ini memiliki maksud spesifik di mata Allah swt. Agar Dia mengetahui siapa diantara kita yang benar-benar beriman dan Dia mengambil sebagian komunitas itu sebagai syuhada’.
Barangsiapa memperhatikan keadaan ummat-ummat sepanjang sejarah maka ia akan mendapatkan pelajaran bahwa obor peradaban berpindah dari bangsa satu ke bangsa lain, dari satu tangan ke tangan lain. Sesungguhnya perputaran (saat) ini adalah milik kita, bukan melawan kita, kata Hasan al-Banna.
Kang Aher, dalam Pidato Peradabannya di Turki, menukil perkataan Seorang futuristic, bahwa bangsa-bangsa besar sudah mengalami, mendapatkan jatah kepemimpinan. Arab sudah, arab bagian barat sudah di Cordoba. Turki sudah. Mongolia sudah dalam menaklukkan Baghdad. Dan ada satu etnis besar yang belum kebagian menaklukkan dunia, itulah etnis melayu. Kalau kemudian kita berbicara peradaban, dan kita berasal dari Indonesia adalah sangat wajar karena kita bangsa besar yang belum dapat giliran. Dan Allah akan mempergilirkan dengan cara adil. Insha Allah dimasa depan yang akan datang memimpin peradaban dunia adalah Indonesia. (Saya baru sadar kenapa The Founding Fathers memakai serapan bahasan Melayu sebagai Bahasa Indonesia)
Bicara perkembangan muslim di Indonesia, tentunya sangat menarik, di pertengahan Ramadhan yang lalu, saya berkesempatan menghadiri peluncuran buku Mas Yuswohady, bersama dengan teman-teman dari Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Buku yang berjudul : Marketing To The MIDDLE CLASS MUSLIM, mengupas Fenomena kebangkitan Kelas Menengah Muslim di Indonesia.
Bangsa Indonesia telah ditempa oleh perjalanan sejarah dan waktu. Krisis 1998 adalah memonetum bangsa Indonesia mereset kedudukannya dalam berbangsa, yang mayoritas penduduknya beragama islam. Saat krisis Subprime Mortgage 2008, di Wilayah Amerika, menjadi Pukulan telak Mahzab Kapitalis.
Buku Karya Mas Yuswohadi setidaknya sudah mengukur fenomena Pertumbuhan Kelas Menengah Muslim pasca runtuh dominansi Kapitalis, tepatnya tahun 2010. Didalam buku tersebut terpetakan 4 tipe konsumen Muslim ; Rationalist, Universalist, Apathist dan Conformist.
Menariknya, Konsumen Muslim, dalam membeli barang dan Jasa, tidak sekedar memperhatikan Fungtional dan Emotional Value saja, akan tetapi juga memasukan unsur Spiritual Value. Alhasil, kita bisa menyaksikan fenomena yang ada saat ini ;
Revolusi Hijab, “Makin Modern, Trendy dan Techy”. Dahulu betapa sulitnya Jilbab diperkenalkan ke Masyarakat. Para Aktivis Dakwah harus berjuan di Awal tahun 90an. Selanjutnya Jilbab sudah mulai dikenal, Namun masih terkesan “Kampungan”. Namun coba kita lihat saat ini.. Terbalik, orang yang tidak berhijab tidak Trendy dan ketinggalan zaman.
Umroh semakin digemari sebagai Wista Religi dan liburan. Apalagi ditambah dengan fenomena Social Media, emotional value konsumen semakin diaduk aduk dengan trend Narsis dan Selfi, begaya didepan Ka’bah Kapan lagi? Mau dong?
Kinclongnya Kosmetik Halal, Wardah effect, bisa dikatakan demikian. Perjuangan Wardah mengedukasi pasar selama puluhan tahun terganjar dengan fenomena ini, Survei Mas Yuswohadi dalam buku ini ; 90% masyarakat pengguna kosmetik saat ini mempertimbangkan unsur halal. Fenomena ini tentunya membuat Was-was Martha Tilar dan pemain sejenisnya yang belum tersentuh unsur halal.
Budaya Islam Pop, “Satu untuk Semua”. Music Islam semakin digandrungi, Opick yang bertahun tahun mencoba mengadu nasib dijalur Rock, ternyata Keberkahannya ada di Musik Religi, lewat Single Alhamdulillah, Opick featuring Amanda berhasil merebut hati konsumen Muslim. Selain Opick, Gigi, Ungu, Wali selalui sukses dengan Musik Religi yang dirilisnya. Selain Musik, fenomena ini juga merambah ke Novel, Layar Lebar dan Sinetron. Penjualan Buku di Gramedia, Buku Motivasi Islam menempati rangking ke 2 setelah penjualan Novel.
Masih banyak fenomena lainnya yang terkait dengan hal ini, sebut saja Booming Bank Syariah, Hotel Syariah, menjamurnya Sekolah berbasis Islam dan Qur’an sebagai pendidikan karakter dan Islamic Parenting.
Tahun 2015, Rumpun melayu mulai unjuk kemampuan dengan memulai ASEAN Free Trade Area, Inysa Allah fenomena kebangkitan Kelas Menengah Muslim akan meluas. Kita tunggu aja effectnya di Tahun 2018 (trend 10 tahunan 1998, 2008).
Manhaj Islam, Yusuf Qardhawi menjelaskan tentang manhaj keseimbangan, yakni seimbang dunia dan akhirat. Dalam surat Al-Jumu’ah 9 dan 10. Ketika azan Jum’at berkumandang tinggalkanlah segala aktifitas duniawi. Tetapi Allah juga kemudian melanjutkan dengan ‘ketika sholat jumat usai dilaksanakan, maka menyebarlah keseluruh muka bumi’. Tidak ada konsep tidur siang untuk mencari karunia Allah serta berzikir; inilah keseimbangan.
Jadi seorang muslim yang bercita-cita jadi orang kaya, berhak untuk itu. Seorang muslim yang bercita-cita untuk menjadi orang hebat, berkewajiban untuk itu. Orang kaya yang bersyukur lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT daripada orang miskin yang bersabar. Lebih baik jadi orang kaya yang bersyukur daripada orang miskin yang bersabar. Pilih mana? Islam tidak memisahkan antara kaya dan syukur, tetapi justru memadukan keduanya dalam waktu yang bersamaan.
Sehingga salah satu jalan untuk membangaun peradaban adalah orang kaya yang menggunakan hartanya dalam kebaikan. Karena 9 diantara 10 sahabat yang dijamin masuk surga adalah pengusaha. Rizki mempunyai 10 pintu, dan 9 pintunya adalah dengan menjadi pengusaha. Satunya adalah untuk para pegawai. Jadi kalau ada pegawai yang kaya raya, patut dicurigai. Jangan-jangan hasil korupsi.
Peran strategis kelas menengah tak hanya terbatas di ranah ekonomi, tapi juga politik. Ya, karena pengalaman di berbagai negara kelas menengah memainkan peran krusial dalam proses demokratisasi. Karena tingkat pengetahuan yang tinggi, kelas menengah memiliki nilai-nilai yang penting bagi terwujudnya proses demokratisasi.
Kajian Pew Research (2009) di 13 negara berpendapatan menengah (middle-income countries) misalnya, menemukan bahwa kelas menengah memiliki nilai-nilai yang menjunjung praktek demokrasi seperti pemilu yang bebas dan jujur, kebebasan berpendapat, dan sistem peradilan yang adil. Dalam tulisan terbarunya di jurnal Foreign Affair berjudul “The Future of History” (2012), pakar politik Francis Fukuyama bahkan menempatkan kelas menengah sebagai penentu arah politik dan demokrasi ke depan
Tentunya Janji Alloh akan menjadi kenyataaan, telepas semua hal yang ada kita tentunya harus bersyukur kepada para Ustdz, Kiayai & aktivis dakwah yang dengan tulus dan ikhlas, memperjuangkan nilai-nilai Islam yang dahulunya banyak ditentang dan dihindari. Buah Kerja kerasnya kita yang menikmati. Hal ini semakin mendekatkan diri kita dengan Alloh SWT. Setidaknya Konsistensi kita kita tunjukan dengan Shalat tepat waktu, bergegas memenuhi panggilanya, Insya Alloh kelak kita dipanggil akan mudah, karena kita sudah terbiasa mempermudah panggilannya.
Kita siapkan anak-anak kita sebagai generasi penerus yang berakhlak islami dengan Al Quran sebagai pegangan hidupnya, Kelak apa yang kita Pikirkan akan terjadi dizaman mereka.
Kita besarkan hati kita dengan banyak bersabar dan bersyukur, Insya Alloh kelak Kita disampaikan dengan Islam sebagai Soko Guru Peradaban (Ustadziyatul 'Alam) Hati kita mampu menampung semua kebesaran Islam yang terkandung didalamnya, Seperti besarnya hati para sahabat yang mampu menerima Kebesaran Al Quran saat duturunkan.

Komentar
Posting Komentar