Pagi hari langit Kota Malang masih diselimuti awan tebal. Sebuah
kondisi yang kurang baik untuk Pesawat mendarat. Pesawat berputar putar
diatas kota Malang. Alhamdulillah, setelah lama berputar-putar akhirnya
pesawat dapat mendarat dengan mulus di Bandara Abdurahman Saleh, Kota
Malang.
Inas dan Hakam ditemanin neneknya tiba di Kota
Malang sekitar jam 9an, langsung menuju Kawasan Glintung, kediaman mbah
utinya, disana telah menunggu jenazah Almarhum ibunya. Inas dan Hakam
sejak dari Jakarta tidak diberi tahu, bahwa ibunya telah tiada.
Setibanya di depan rumah, mereka berdua sempat gembira karena agenda
liburan ke Malang terwujud. Tidak berselang lama, suasana berubah ketika
jenazah almarhumah ibu tercintanya ada dihadapan mereka, Inas dan Hakam
tidak bisa menahan tangis, demikian pula para pelayat yang menyaksikan,
semuanya menetesakan air mata.
Semua berusaha membesarkan hati mereka berdua, harapan sosok anak soleh dan solehah yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Inas langsung membaca ummul kitab, al fatihah dengan gayanya yg lantang, dilanjutkan surat Al Kautsar. Dalam suasana penuh emosi, Inas masih berupaya menyetor hafalan Juz 30nya, Inas beupaya membaca surat Al Buruuj. Hanya sampai 3 ayat Inas menangis disamping saya, ayahnya yg mendampingi.
3 ayat pertama surat Al Buruuj, membuat Kiai Kosim, Imam Mushola Bahrul Ulum kaget, dan menanyakan kepada saya dimalam pertama acara doa dan tahlil. Kiai Kosim penasaran dan menyakan, apakah Inas sekolah Madrosah, sehingga paham apa yang harus dibaca ; 1. Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, 2. dan hari yang dijanjikan, 3. dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Saya bilang ke Kiai Kosim, Inas Sekolah di SDI Plus Baitul Maal, dia hanya berupaya menyetor hafalan juz 30nya. Kiai Kosim bilang kepada saya, Kalau anak dididik baik, pasti yg terucap adalah hal-hal yang baik. Sebelum pulang ke Jakarta Inas di kasih beberapa botol susu sama Kiai Kosim.
Inas terlahir dari 2 mainstream dakwah berpengaruh di Indonesia. Kakeknya (Bapak dari Ibu) adalah Kiai Kampung yang senantiasa mengimami Masjid dan Mushola di daerah Glintung, beliau adalah lulusan Pesantren Sido Giri, Pesantren Nahdatul Ulama (NU) yang cukup berpengaruh di Kota Pasuruan. Disisi yang lain, rumah neneknya (Ibu dari Ayah) di Rambai, Pariaman (Sumbar), adalah markas Nasyiatul Aisyiyah, sebuah organisasi keputrian Muhammadiyah.
Harapannya inas kecil bisa menjadi da'i ah yang bisa diterima disemua kalangan. Insya Allah hal tersebut sedang diupayakan dan terus diperjuangkan. Semoga Inas menjadi anak yang soleh yang membanggakan orang tuanya dihadapan Allah Azza wa jalla. dan mampu Berbakti demi nusa dan bangsa.
Terima kasih atas guru-guru yang telah mendidik inas di SDIP Baitul Maal, Pondok Aren, Tangsel Banten.
Inas & Hakam
Semua berusaha membesarkan hati mereka berdua, harapan sosok anak soleh dan solehah yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Inas langsung membaca ummul kitab, al fatihah dengan gayanya yg lantang, dilanjutkan surat Al Kautsar. Dalam suasana penuh emosi, Inas masih berupaya menyetor hafalan Juz 30nya, Inas beupaya membaca surat Al Buruuj. Hanya sampai 3 ayat Inas menangis disamping saya, ayahnya yg mendampingi.
3 ayat pertama surat Al Buruuj, membuat Kiai Kosim, Imam Mushola Bahrul Ulum kaget, dan menanyakan kepada saya dimalam pertama acara doa dan tahlil. Kiai Kosim penasaran dan menyakan, apakah Inas sekolah Madrosah, sehingga paham apa yang harus dibaca ; 1. Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, 2. dan hari yang dijanjikan, 3. dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Saya bilang ke Kiai Kosim, Inas Sekolah di SDI Plus Baitul Maal, dia hanya berupaya menyetor hafalan juz 30nya. Kiai Kosim bilang kepada saya, Kalau anak dididik baik, pasti yg terucap adalah hal-hal yang baik. Sebelum pulang ke Jakarta Inas di kasih beberapa botol susu sama Kiai Kosim.
Inas terlahir dari 2 mainstream dakwah berpengaruh di Indonesia. Kakeknya (Bapak dari Ibu) adalah Kiai Kampung yang senantiasa mengimami Masjid dan Mushola di daerah Glintung, beliau adalah lulusan Pesantren Sido Giri, Pesantren Nahdatul Ulama (NU) yang cukup berpengaruh di Kota Pasuruan. Disisi yang lain, rumah neneknya (Ibu dari Ayah) di Rambai, Pariaman (Sumbar), adalah markas Nasyiatul Aisyiyah, sebuah organisasi keputrian Muhammadiyah.
Harapannya inas kecil bisa menjadi da'i ah yang bisa diterima disemua kalangan. Insya Allah hal tersebut sedang diupayakan dan terus diperjuangkan. Semoga Inas menjadi anak yang soleh yang membanggakan orang tuanya dihadapan Allah Azza wa jalla. dan mampu Berbakti demi nusa dan bangsa.
Terima kasih atas guru-guru yang telah mendidik inas di SDIP Baitul Maal, Pondok Aren, Tangsel Banten.
Inas & Hakam Saat Pemakaman Ibunya
# Peristiwa ini terjadi 3 tahun yang lalu, Saat ini Inas Kelas 7 di MTs 32 & Hakam Kelas 4 di SDIP Baitul Mal, Alhamdulillah atas izin Allah pula saya telah menikah dengan Roza Dwi Marina dan Saat ini Ahamad Fatih Faturohman m (1,5th ) melengkapi Keluarga kami. Semoga Kami sekeluarga senantiasa dibimbing oleh Allah SWT untuk menjadi keluarga yang sakinah.


Subhanalllah Bersyukur ya Ajo Dedi semoga apa yg di cita ciatakan bisa tercapai sesuai keinginan Ajo dedy...salam buat keluarga.
BalasHapus