Langsung ke konten utama

Kepada para pemimpin Indonesia masa depan, Di manapun Anda berada, Di dunia yang semakin global





 Handry Sartiago saya pertama kali bertemu beliau di acara Masa Perekenalan Kampus (MPK) - IPB tahun 1996, di Graha Widya Wisuda - IPB. Sosok lelaki dengan kursi roda hadir dikerumunan Mahasiswa Baru IPB. Beliau memberikan Motivasi dan semangat untuk terus belajar dan bertahan.

Konsistensi beliau, antara ucapan dan tindakan masih bisa dibuktikan hingga saat ini, Ya beliau saat ini menjadi CEO GE Indonesia.

Pada suatu kesempatan beliau menulis surat untuk para pemimpin Indonesia masa depan, Bersama surat tersebut, Insya Allah kita semua terpatri bersama ;

Kuntum khairu ummah ukhrijat linnasi
(Kamu adalah sebaik-baiknya umat yang di-tampilkan untuk umat manusia. QS. 3: 110).

Berikut ini Naskah Surat dan Videonya :

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop dari Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk
“Made in The World” seperti celana jeans yg saya pakai sekarang. Karena, walaupun saya beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”, celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain
pembuatannya.

Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata “leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengatahuan yg
dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang yang berkecamuk. Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga dia berani mendobrak keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku
untuk survive di berbagai kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di Jakarta, Tidakkah dia takut dengan keterbatasannya? Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia inginkan.

Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi sendiri pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker lymphoma non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di
medulla spinalis saya dan merusaknya sedemikian rupa sampai saya kehilangan kemampuan untuk berjalan. Bulan-bulan yang melelahkan karena harus berobat ke sana ke mari, dan akhirnya berujung kepada
keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan kursi roda. Saya ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup saat itu. Keterbatasan menghadang di banyak hal. Usia saya baru 17 tahun waktu itu,
dan hidup berjalan jauh dari yang saya harapkan.

Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi tembok besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus dilontarkan kepada kita sehingga kita tidak berani maju dan terus mundur?

Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan menerima kenyataan. Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa lapangan pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap. “Reality bites” kata orang. Betul itu. Tapi menerima “gigitan” itu berguna untuk membuat kita mampu menyusun strategi baru. Menghindarinya atau lari darinya justru membuat kita terlena mengasihani diri kita terusmenerus
dan menenggelamkan kemampuan kita untuk dapat melawan balik.

Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya. Tidak! Mimpi tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan, bahkan dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup. Ketika keterbatasan dan ketakutan melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan, tapi tidak akan hilang. Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya kembali, dan ketika mimpi telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan memberikan cahaya terhadap pilihan jalan yang akan ditempuh untuk mewujudkannya.

Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat saya semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan kita untuk menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survival nya di muka bumi ini. Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme primitif yang dimiliki organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari dari ancaman, atau… melawannya!. Ketika pilihannya adalah melawan, maka perangkat perang telah disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu terwujud dalam kemampuan bouncing back—daya pantul, yang jika digunakan mampu membuat kita memantul tinggi ketika kita
dihempaskan ke tanah. Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu bekerja. Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan tidak akan hadir.


Video : Handry Saratiago pada suatu kesempatan membacakan isi suratnya

Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini. Ketika membuat pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki
tangga bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika memutuskan untuk kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bisa praktikum kuliah, ketika harus menjalani kemoterapi, ketika memulai
bekerja, ketika naik pesawat, ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika melamar calon istri, ketika mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang General Electric International Operations Company, Inc. asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE di Indonesia….Saya takut. Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi menghujami saya.

Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya tempuh. Dan ketika perangkat perang—semangat untuk memantul, saya gunakan, saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang didukung oleh ribuan pasukan—keluarga, teman, bahkan orang yang tak dikenal, yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan saya. Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah yang harus saya jalani, saya nikmati. Hasil peperangan sendiri tidaklah terlalu penting, karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi. Kalau mati, saya akan mengakhiri perang dengan senyum, karena saya tahu saya telah berjuang dengan sebaik-baiknya. Sang Pencipta lah yang pada akhirnya memilihkan hasil dari perjuangan kita.

Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan mimpi yang ingin dicapai. Tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut. Jika mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani mempimpin diri anda sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu anda dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan anda.

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia tempat saya hidup sekarang ini menghasilkan pendapatan kotor setahun $70 triliun. Sekitar 40% dari pendapatan dunia tersebut dihasilkan oleh 500 korporasi terbesar dunia, dan tidak ada satu pun yang berasal dari negara kita (133 dari Amerika Serikat, 79 dari China, 8 dari India). Terdapat sekurangnya 136 negara yang berkompetisi di dunia ini untuk mendapatkan
keuntungan terbanyak dari proses ekonomi global, dan daya saing Indonesia terukur pada ranking 50. Singkat kata, kita masih belum menjadi pemeran utama di panggung dunia yang tak berhenti mengglobal.

Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah. Tidak berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan langkah anda untuk berperang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu Susi, Laut itu melihatnya saja dapat Pahala, Apalagi mengarunginya...

  Ibu Susi Pudjiastuti terpilih sebagai Menteri Kelautan & Perikanan (MKP), selamat ya bu.. Ibu terpilih menjadi MKP. Hal ini bukan tugas yang ringan, boleh jadi ini mungkin ini ujian yang Sulit buat ibu Susi. Saya sangat prihatin, dalam setiap situasi dan kondisi, ada saja yang ingin membenturkan bangsa Indonesia, berbagai Foto Ibu disandingkan dengan Ibu Atut, dengan Almarhumah Ustadzah Yoyoh, sungguh bukan hal yang pantas untuk disandingkan dan dibandingkan. Manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, jangan kita terlalu sombong dengan kelebihan yang kita miliki, karena semua itu semata Anugerah Allah SWT. juga kita harus bersyukur karena masih banyak kekurangan kita yang Allah SWT tutupi, hanya sedikit yang orang lain tau, sungguh Allah SWT lah yang maha pemurah lagi maha pengasih.... Bicara tentang laut tentu bukanlah hal yang sederhana, laut adalah sebuah persoalan kompleks yang harus kita selesaikan secara bersama ; banyak kepentingan yang ada dil...

Berpikir Besar, Bertindak Kecil (Think Big, Act Small)

Jason Jennings, penulis buku less is more, melakukan riset terhadap beberapa perusahaan di Amerika yang mampu memberikan laba yang Optimal, Jasson mengelompokan dengan pendekatan berpikir dan bertindak, ada 4 type diantaranya ; Berpikir Kecil, Bertindak Besar   Berpikir Kecil, Bertindak Kecil Berpikir Besar,  Bertindak Besar Berpikir Besar, Bertindak Kecil Berpikir besar saja tidaklah cukup untuk menjadikan suksenya sebuah bisnis, terlebih lagi tidak ada satupun bisnis yang didirikan untuk gagal. Namun kenyataannya, setiap tahun di AS terdapat lebih dari 40.000 Bisnis yang bangkrut. Riset dari University of Texas memperlihatkan bahwa 98% perusahaan kecil tutup dalam 11 tahun. Berpikir besar terdapat pada setiap keberhasilan usaha manusia. Namun, berpikir besar saja tanpa tindakan yang tepat hanya menghasilkan kegagalan. 4 katagori pemikiran dan tindakan (eksekusi) diatas adalah alternatif yang tersedia bagi setiap pemimpin dan perusahaan. Jason Jennings menemukan ...

Semuanya itu bermula dari Mimpi Besar

Dakwah Islam mengenal istilah Mahaliyah Wa ‘Alamiyah , bertindak lokal berpikir global, satu nafas dengan Berpikir Besar, bertindak kecil (Think Big, Act Small) Bagaimana cara mengimplementasikan konsep tersebut. untuk menjalankan usaha dibutuhkan cita-cita yang besar, cita-cita besar harus kita pikirkan bagaimana cara mewujudkannya, Konsep mind map bisa kita pakai untuk Memancing ide besar dan sekaligus mengurainya : Gambar Konsep Mind Map Mind Map menurut IQmatrix bermanfaat untuk : Menyimpan informasi   Pengorganisasian informasi Skala prioritas Belajar memahami informasi   Meninjau kembali   Mengingat informasi   Metode ini dipopulerkan oleh Tony Buzan, seorang penulis dan bintang televisi terkenal dari Inggris. Agar mempermudah kita dalam memeras ide besar menjadi tindakan-tindakan kecil, kita bisa menggunakan software xmind :   Aplikasi Xmind Rangkaian tindakan yang sudah terurai bisa kita ...